- Review ini mengandung spoiler
- Trigger Warning: sensitive topic (suicide)
Pada suatu hari, Tengkorak Putih, Anggrek Hitam dan Langit Mendung berkumpul di sebuah gudang. Di depan mereka terdapat bola besar yang berisi kembang api, Urip Iku Urup terukir di atasnya. Ini adalah kali pertama mereka bertemu, setelah selama ini hanya bertemu di dunia maya, di suatu group chat lebih tepatnya. Tujuan mereka bertemu hanya satu: menyalakan kembang api dan meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Mengapa? Hanya mereka dan Tuhan yang tahu. Setidaknya begitulah salah satu peraturan yang ada di dalam group chat bunuh diri bersama tersebut: tidak boleh ada yang menanyakan masalah personal. Tetapi, mereka masih menunggu kedatangan satu orang terakhir—Anggun, seorang yang tidak mereka sangka hadir dengan seragam sekolah SMA. “Di grup gak ada batasan umur kan, semua boleh ikut?”, ujar Anggun. Kedatangannya ke dalam grup tersebut ternyata memulai sebuah dilema moral yang mempertanyakan siapa yang berhak untuk bunuh diri.
Premis itulah yang menjadi awal konflik film KEMBANG API arahan Herwin Novianto, yang juga adalah adaptasi dari film Jepang berjudul 3FT BALL & SOULS karya Yoshio Kato yang dirilis tahun 2017 silam. Langit Mendung, yang bernama asli Fahmi (diperankan oleh Donny Damara) merasa masalah yang ia dan kedua orang dewasa lainnya alami lebih berat dibandingkan masalah Anggun (Hanggini). Ia merasa Anggun tidak boleh berada disini. Harusnya anak semuda itu mati nya mati wajar, seakan ada batasan umur untuk bunuh diri. Bertengkar dengan orang tua, atau kehamilan menjadi prasangka yang ditujukan kepada Anggun. Bagi mereka anak seumur Anggun tidak mungkin memiliki masalah yang dapat menjustifikasi keinginannya bunuh diri, bahkan sebelum mereka mendengar alasan Anggun. Prejudice really is a product of ignorance. Sebenarnya, prasangka juga lah yang memulai perkenalan keempat orang asing tersebut. Fahmi awalnya menganggap Anggrek Hitam, adalah seorang perempuan, yang sebenarnya adalah Raga (Ringgo Agus Rahman), dan Sukma (Marsha Timothy) adalah seorang laki-laki karena memilih nama Tengkorak Putih.
Konflik tidak berhenti sampai disitu, keanehan lain pun terjadi setelah mereka berempat ternyata terjebak dalam sebuah time loop setiap salah satu dari mereka berusaha untuk menekan tombol ledakan kembang api tersebut, yang membawa mereka kembali di saat mereka pertama bertemu. Ketiga orang dewasa tersebut menganggap ada ‘Kekuatan Besar’ yang tidak ingin Anggun bunuh diri bersama mereka, maka menjadi misi bagi mereka bertiga untuk menghentikan niat Anggun untuk bunuh diri. Masing-masing mulai menceritakan alasan mereka hadir di tempat itu. Alih-alih mendapat simpati, mereka malah mulai menghakimi satu sama lain. Kamu terlalu cengeng, terlalu lemah, terlalu mudah putus asa. Mereka membandingkan masalah orang lain dengan masalah mereka sendiri. Tanpa sadar mereka terperangkap dalam lomba siapa yang paling menderita. Semua merasa alasan masing-masing lah yang paling bisa diterima. Apakah usia seseorang dapat menjadi sebuah tolak ukur untuk dapat memutuskan untuk bunuh diri? Jika masih remaja dianggap masih labil, apakah semerta-merta membuat pemikiran orang dewasa dinilai jauh lebih matang untuk melakukan hal yang sama? Apakah membuat keputusan itu menjadi lebih dapat diterima?
Film dengan topik sensitif seperti ini jelas bukan pertama kalinya diangkat, khususnya di perfilman Indonesia, tetapi rasanya cukup sulit untuk benar-benar bisa menghasilkan narasi yang tidak menghakimi tetapi secara bersamaan juga menonjolkan optimisme sebagai sajian refleksi bagi penonton tanpa harus menjadi sajian melodrama yang mendayu-dayu. Dengan naskah yang ditulis oleh Alim Sudio, KEMBANG API cukup lugas dalam menggambarkan bahwa tidak ada alasan yang terlalu sepele untuk seseorang dapat berfikiran untuk mengakhiri hidupnya. Tetapi juga menunjukkan bagi sebagian orang, tidak ada alasan sekuat apapun untuk bunuh diri. Pendekatan yang dituang dalam film ini mampu memberikan sisi humanis dari setiap permasalahan yang dihadapi oleh setiap karakter, serta menyeimbangkan perspektif baik dari yang pro maupun kontra. Your feeling is valid, no matter how shallow others might see it. Masih banyak yang dapat di-explore lebih dalam mengenai mental health yang disinggung dalam film ini sebenarnya, but it’s a story for another time, maybe.
Urip iku urup, yang secara harafiah berarti hidup itu menyala. Fahmi secara ironis mengukir tulisan tersebut di bola kembang api buatannya dengan anggapan kembang apinya akan menyala terang saat diledakkan. Proses kematian yang unik, cepat dan indah, bagi Fahmi dan Raga. Tetapi bagi Sukma, ungkapan yang sering dituturkan oleh ayahnya itu memiliki makna bahwa hidup itu sebaiknya memberikan manfaat untuk orang lain. Fahmi, Raga, Sukma dan bahkan Anggun tidak menyangka bahwa mereka adalah jawaban dari permasalahan masing-masing: sebagai wadah untuk bercerita dan untuk didengarkan. Banyak yang masih menganggap permasalahan kesehatan mental hanya perlu pendekatan spiritual saja. Tidak salah memang, tetapi tidak sepenuhnya benar. Bagi Fahmi, Raga, Sukma, bahkan Anggun pun, yang mereka butuhkan nyatanya adalah perspektif lain, bagaimana mereka melihat masalah dari kacamata orang lain, dengan pengalaman hidup yang berbeda pula. Memang di awal masih ada tendensi untuk menghakimi, sudah sifat alami manusia. Tetapi ketika kita dapat menurunkan ego dan membuka hati kita untuk berempati terhadap sesama, kita bisa memulai untuk melihat masalah dengan point-of-view yang berbeda. Perlu diakui bahwa resolusi konflik dalam film ini terkesan cenderung superfisial, mungkin agar lebih mudah dicerna untuk penonton. Tetapi poin yang ingin disampaikan tetap dapat dituturkan dengan baik,
Konsep time loop dalam film ini seakan menjadi sebuah metafora bagaimana berkecamuknya pikiran orang-orang dengan masalah mental. Menjadi suatu tantangan bagi Herwin, DOP Edi Santoso dan editor Mardiansyah Em untuk menghasilkan efek time loop yang seamless agar penonton tidak bosan dan tetap menjaga atensinya, apalagi dengan single setting yang tentunya membatasi ruang gerak cerita. Hasilnya bisa dibilang cukup berhasil dalam pemanfaat maksimal dari apa yang mereka punya. Tentunya juga berkat permainan apik dari jajaran cast. Donny Damara lagi-lagi menunjukkan bahwa dirinya adalah salah satu aktor terbaik yang kita miliki, begitu juga dengan Marsha Timothy. Ringgo Agus Rahman juga semakin sukses melepaskan predikat aktor komedi dengan peran-peran dramatisnya, tidak terkecuali dalam film ini. Hanggini, sebagai pendatang baru ternyata juga mampu mengimbangi permainan aktor dan aktris senior yang bermain bersamanya. Peran-peran pembantu lain juga cukup memberikan warna pada film ini walaupun porsinya tidak besar. Sayangnya Imelda Tharine yang berperan sebagai ibu dari Anggun tidak banyak muncul di layar, karena saya sangat terpukau dengan penampilannya dalah serial TELUH DARAH yang juga dirilis tahun ini.
Entah disengaja atau tidak, nama-nama karakter dalam film ini juga sepertinya diambil dari elemen-elemen yang membentuk kehidupan. Fahmi atau faham, raga atau badan, sukma atau jiwa, serta anggun atau wibawa yang menjadi pelengkap. Keempat elemen tersebut menjadi suatu kesatuan yang tidak dapat berdiri sendiri, yang membuat manusia, manusia. Semua harus berjalan seimbang dan bersinergis agar manusia dapat berfungsi dengan baik. Username yang mereka pakai pun sebenarnya mewakili masalah dalam kehidupan mereka; Fahmi, Langit Mendung, pembuat kembang api yang terlilit hutang akibat kegagalan salah satu kembang apinya; Raga atau Anggrek Hitam yang trauma setelah kematian pasiennya; serta Sukma atau Tengkorak Putih, yang merasa bersalah ketika kecelakaan mobil merenggut nyawa anaknya. Hanya Anggun yang menggunakan nama asli. Setelah perundungan dan penyebaran foto pribadinya, Anggun tidak segan menggunakan nama asli, yang seakan menjadi aksinya dalam merebut kembali harga dirinya.
Pada akhirnya, KEMBANG API adalah tentang kesempatan kedua, tentang empati dan tentang kemanusiaan, baik dalam diri sendiri maupun terhadap orang-orang di sekitar kita. We sometimes underestimate and undervalue ourselves and also others just to make our points, –just to make us feel better. Kita tidak pernah bisa benar-benar menilai orang dari bungkusnya. Sebuah bola dengan ukiran tentang kehidupan ternyata bisa dipakai untuk mengakhirinya. Sosok yang harusnya sudah dewasa, ternyata tidak bisa mengambil keputusan yang masuk logika, sedangkan yang muda malah memberikan perspektif baru bagi pribadi-pribadi yang tersesat. We don’t know each other’s’ struggles, but we can always try to understand. Film ini mengajak kita untuk terus mendengarkan, untuk terus peduli, dengan minim penghakiman. Siapa yang menduga suatu hari nanti, bisa saja kita adalah alasan seseorang untuk mempertahankan hidupnya. (B)